Kampanye Jaman Sekarang Sarat Gesekan, Mari Tengok Wajah Kampanye Jaman Dahulu.

Kampanye Jaman Sekarang Sarat Gesekan, Mari Tengok Wajah Kampanye Jaman Dahulu.

Kampanye jaman now mental juga harus jaman now!

Pada 23 September kemarin resmi dimulai masa kampanye pemilu 2019 hingga 13 April nanti. Semua pihak yang yang terdaftar dalam pemilu diharamkan menggunakan kampanye hitam. Hal itu diutarakan secara tersirat dengan dilaksanakannya deklarasi kampanye damai sebagai tanda mulainya masa kampanye.

Pemilu langsung mulai diadakan pada tahun 2004. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat dan dari rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rangkaian pemilu. Sejak saat itu otomatis kampanye mengenalkan calon-calon pemimpin pada masyarakat mulai dilakukan.

Kampanye pada jaman dulu selalu identik dengan :

1. Konser dangdut. 

Dangdut selalu mampu menjadi magnet bagi banyak masyarakat Indonesia yang notabene suka musik-musik melayu salah satunya dangdut. 

Kampanye Pemilu dengan konser dangdut via tempo.co

2. Bagi-bagi kaos dan sembako.

yang bergambarkan calon-calon legislatif atau presiden. Karena memang dulu agar dipilih oleh masyarakat dulunya partai-partai yang ada melakukan dan hal-hal tersebut agar masyarakat lebih sering dan terbiasa dengan partai tersebut. Selain hal tersebut partai-partai politik juga sering membagi-bagikan sembako untuk warga.

Bagi-bagi sembako di Monas via liputan6.com

Di era digital jaman sekarang bentuk kampanyenya melalui media-media kreatif. Buktinya dengan bantuan Facebook Barrack Obama mampu menduduki singgasana sebagai Presiden Amerika. Bahkan, pada 2008 silam tim kampanye Obama mampu mengumpulkan dana lebih dari US$500 juta dari sekitar enam juta donaturonline


Ini membuktikan betapa masifnya efek dari media digital untuk meraup suara dan dukungan. Lewat media sosial sekarang banyak partai menarik perhatian masyarakat, apalagi demi mendapatkan suara kawula muda atau generasi millenial memang harus melalui pendekatan lewat media sosial dan yang tak membosankan seperti masa-masa dulu. 

Di sisi lain berdasarkan catatan lembaga riset digital marketing Emarketer diperkirakan pada tahun 2018 mendatang jumlah pengguna smartphone di Indonesia mencapai angka 100 juta. Artinya, Indonesia menjadi negara dengan penggunaan smartphone terbesar keempat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. 

Tapi selain mempunyai dampak positif kampanye digital juga tentu memiliki dampak negatif, seperti fenomena yang sudah sering kita jumpai saat ini yaitu penyebaran hoax dan isu-isu SARA yang termasuk dalam kampanye hitam. Jika kampanye hitam jaman dulu biasa disebut "Serangan Fajar" kini kampanye hitam berupa hoaks dan isu-isu SARA yang beredar. Terbukti dengan maraknya politik identitas di masa kini adalah salah satu dampak negatif dari kampanye jaman now.

Salah satu contoh kampanye baru adalah dengan cara blusukan mendatangi kawasan-kawasan tempat tinggal warga untuk langsung bersosialisasi dan berkenalan dengan calon-calon pemilihnya. 

Memang relevansi jaman dalam politik dibutuhkan. Pelaku-pelaku politiknya memang bukan generasi jaman sekarang tapi mau tak mau karena demi mengikuti perkembangan jaman dan menjamah golongan muda. 

Acara dangdut tak lagi efektif, bagi-bagi kaos bukan opsi lagi. Dulu ya dulu, sekarang ya adu strategi mensejahterakan Indonesia. Adu pemikiran memajukan masyarakatnya, debat misi dan visi jangan pakai bahasa asing, karena yang diurus bangsa sendiri.  Jangan pakai isu SARA, hoaks, atau bagi-bagi kaos tipis saja.

Baca Juga : Kejutan-Kejutan Yang Muncul Jelang Pilpres 2019! Awalnya Sama Siapa Akhirnya Dukung Siapa.

Tags :