Tak Mampu Bayar Cicilan Mobil, Sopir Taksi Online Gantung Diri

Ilustrasi gantung diri
Ilustrasi gantung diri | jogja.suara.com

Sopir taksi online gantung diri di belakang rumahnya

Tekanan ekonomi bisa membuat seseorang melakukan berbagai aksi nekat. Juna Lismi, pria berusia 32 tahun, nekat menghabisi nyawanya sendiri. Pria yang menetap di Cikarang Timur, Bekasi, ini diduga melakukan aksi bunuh diri karena tidak sanggup membayar cicilan mobil yang sudah menunggak selama dua bulan.

1.

Korban gantung diri di belakang rumah

Ilustrasi gantung diri
Jenazah korban ditemukan di belakang rumah | wartakota.tribunnews.com

Jasad Juna yang tergantung di pohon sengon pertama kali ditemukan oleh sang anak pada Senin, 6 April 2020. Saat itu, anak Juna memeriksa halaman belakang rumahnya dan melihat sang ayah tergantung tak bernyawa dengan tali ayunan yang mencekik lehernya.

Anak Juna pun langsung berteriak dan meminta tolong warga sekitar. Setelah itu, jasad Juna langsung diturunkan dan dievakuasi. Warga pun melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian setempat.

Baca Juga: Dilema Mudik di Tengah Wabah: Dulu Mengalirkan Rezeki, Kini Pembawa Petaka?

Kabis Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, mengatakan bahwa berdasarkan keterangan sang istri, Juna mengakhiri hidupnya lantaran masalah ekonomi. Pasalnya, belum lama ini, keluarga Juna selalu didatangi oleh penagih hutang.

“Sebelumnya ada seorang laki-laki yang datang ke rumahnya menagih cicilan kredit mobil dan setelah itu korban sering melamun,” ujar Kombes Pol Yusri Yunus.

2.

Korban tidak bekerja

Ilustrasi gantung diri
Ilustrasi korban bunuh diri | www.youtube.com

Kombes Pol Yusri Yunus juga mengatakan bahwa selama dua bulan ini korban tidak memiliki penghasilan. Sebelumnya, Juna berprofesi sebagai supir taksi online namun tidak dijelaskan alasan Juna tidak bisa lagi bekerja.

“Korban sering melamun karena sudah dua bulan tidak narik sebagai supir taksi online dan tidak ada permasalahan lainnya,” kata Kombes Pol Yusri Yunus.

Baca Juga: Amuk Keluarga Saat Sopir Angkutan Divonis Corona: Cuma Digigit Lebah Kok Diisolasi!

Pernyataan dari Kombes Pol Yusri Yunus ini menyiratkan bahwa penyebab kuat Juna melakukan aksi bunuh diri adalah tekanan ekonomi. Juna yang tengah menganggur dan tidak memiliki penghasilan merasa sangat tertekan dengan tagihan cicilan mobil yang tidak mampu ia bayar.

3.

Kasus bunuh diri karena himpitan ekonomi

Ilustrasi gantung diri
Ilustrasi sopir taksi online | sulawesi.bisnis.com

Sebelumnya, aksi bunuh diri yang dipicu tekanan ekonomi juga sempat terjadi pada bulan Januari lalu di Kabupaten Murung Raya. Pria yang berprofesi sebagai pengrajin kayu itu ditemukan tewas bunuh diri.

Menurut Dahlionur, istri korban, ia dan korban sempat terlibat pertengkaran terkait hutang. “Kami sempat berkelahi mulut sebelumnya hingga suami saya mengeluarkan ucapan kata talak kepada saya. Setelahh itu saya bersama anak tidur dan ketika terbangun tengah malam saya sudah melihat suami saya di dapur,” ujar Dahlionur.

Baca Juga: Viral Perawat Shalat Pakai APD Lengkap Saat Lawan Corona, Netizen: Tuhan Melihat Hatimu!

“Saya rasa depresi berat yang dialami oleh suami saya karen selama ini suami saya banyak diminta untuk bayar utang. Sedangkan untuk makan sehari-hari kami dan anak saja sudah kesulitan,” lanjut Dahlionur.

Artikel Lainnya

Kasus-kasus bunuh diri semacam ini butuh pencegahan yang sangat serius. Jika mengetahui kerabat dekat tengah menghadapi masalah hingga mengalami stres atau depresi, sebaiknya segera berikan pertolongan. Menghubungi layanan pencegahan bunuh diri pun bisa menjadi solusi.

Tags :