Sepulang Seleksi Timnas u-13, Bocah ini Hanya Bisa Menangis Lantaran Keluarganya Jadi Korban Tsunami Selat Sunda

Sepulang Seleksi Timnas u-13, Bocah ini Hanya Bisa Menangis Lantaran Keluarganya Jadi Korban Tsunami Selat Sunda
https://kumparan.com/@kumparannews/kisah-aditia-calon-pemain-timnas-u-13-jadi-korban-tsunami-lampung-1545836608242641166

Tatapannya kosong, hati dan batinnya berkecamuk

Seorang bocah bernama Aditia harus kembali ke kampung halamannya dengan hati yang hancur. Kampungnya di Desa Kunjir, Lampung Selatan rata dengan tanah akibat tsunami yang menyapu wilayah tersebut. Lebih menyedihkannya lagi, adik dan ibunya jadi korban meninggal akibat tsunami tersebut.

Aditia lolos dari bencana tsunami tersebut karena pada beberapa jam sebelum terjadi tsunami, ia sedang mengikuti undangan untuk seleksi tim sepak bola nasional (Timnas) U-13 pra penyisihan Piala Asia.

Aditia, via Google.com

Kampungnya, Desa Kunjir menjadi salah satu wilayah terparah yang diterjang bencana tsunami. Wahyu merupakan dokter yang terus mendampingi Aditia sejak awal. Wahyu bercerita, saat ini Aditia berada di balai pengungsian di Desa Totoharjo di Lampung Selatan. Posisi ia menetap saat ini sekitar 7,8 kilometer dari rumahnya di Desa Kunjir.

"Pas Minggu itu, anak itu sudah pulang enggak dibawa ke tempat lokasi karena memang tidak boleh, sudah disteril. Jadi dibawa saja ke tempat pengungsian yang di (Desa) Totoharjo itu, di balai pengungsian Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, sekarang dia di sana," kata Wahyu

Aditia, via Google.com

Aditya sampai saat ini masih hancur hati dan batinnya terus berkecamuk lantaran belum diberitahu bagaimana kondisi ibu dan adiknya, sedangkan ayahnya belum diketemukan. Tim medis belum ada yang “mampu” untuk memberitahu kondisi keluarga Aditia saat ini, lantaran takut respon bocah tersebut menimbulkan hal negatif bagi dirinya.

"Kami bingung sampai 2 hari tak bisa mengungkapkan kenyataan bahwa adiknya meninggal, ibunya meninggal sama bapaknya belum ketemu tapi kakaknya sudah dapat kabar bahwa bapaknya sudah ada (kabarnya)," kata Wahyu.

Nafsu makannya menurun sejak mengetahui tragedi tsunami menghantam rumahnya.

"Kami bingung semua bingung, tim dokter juga konseling bagaimana, harus (ditangani) psikolog karena trauma pascabencana akan panjang apalagi kehilangan orang yang dicintai," katanya. "Setiap dikasih biskuit, makanan, atau apapun dia selalu masukkan ke tas disimpan enggak dimakan sama dia enggak disentuh bilangnya untuk adik, itu terenyuh."

Saat ini tim medis memberi prioritas terhadap penanganan trauma kepada Aditia. Ia butuh penanganan khusus dari psikolog untuk memulihkan keadaan Aditia. Wahyu mengakui, timnya terkendala minimnya tenaga psikolog dalam penanganan trauma healing korban tsunami

Aditia, via Twitter

Kabar mengenai Aditia ini juga viral di media sosial melalui unggahan di akun twiter Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo. Pada video unggahannya nampak seorang polisi sedang menenangkan Aditia. Sang polisi tersebut melihat Aditia yang bengong dan nampak kesedihan sangat dalam di raut wajah Aditia langsung berusaha memeluk untuk menenangkannya. Video ini sangat menggugah hati banyak netizen yang melihatnya.

Rons Onyol Imawan. ™‏ @RonsImawan Kedukaan paling mendalam adalah bukan saat menangis meraung, tapi justru ketika diam dengan tatapan kosong. Tatapan adit udah kosong. Ga bisa bayangin ada di posisi dia :(
Muhammad Allabus Roy‏ @AllabusRoy Sampe nangis gini gua :(
Najwa Thahira‏ @NajwaThahira6 Yaa Allah, hati ibu mana yg tidak tersayat melihat nasib anak ini..
Herman‏ @Herman_noelher kenapa dadaku sesek yaa
Visual story via keepo.me

Dalam bencana ini banyak anak-anak kecil yang menjadi yatim piatu akibat kehilangan anggota keluarganya. Semoga pemerintah memperhatikan psikologis anak-anak tersebut, sehingga tumbuh kembangnya tidak terhambat dan mereka tetap bisa memiliki masa depan yang cerah.

Baca Juga : 

Tags :