Remaja Putri Gubernur Saudi Ini Kabur karena Takut Dibantai Keluarganya. Begini Kisahnya!

Remaja Putri Gubernur Saudi Ini Kabur karena Takut Dibantai Keluarganya. Begini Kisahnya!
https://www.bbc.com/news/world-asia-46819199

#SaveRahaf!

Warganet dunia digemparkan oleh kabar seorang gadis remaja asal Arab Saudi yang melarikan diri dari keluarganya dan bersembunyi di Thailand. Melalui tagar #SaveRahaf, kasus ini pun mulai menemukan titik terangnya dan sang gadis pun mendapatkan perlindungan.

1.

Bersembunyi di bandara Thailand

Remaja Putri Gubernur Saudi Ini Kabur karena Takut Dibantai Keluarganya. Begini Kisahnya!

Minggu, 6 Januari 2019, sebuah akun Twitter dibuat oleh seorang remaja perempuan asal Arab Saudi. Ia adalah perempuan 18 tahun yang ditolak masuk ke Thailand karena berusaha kabur dari ancaman pembunuhan oleh keluarganya.

Rahaf Mohammed Al-Qunun, nama remaja tersebut, mengunggah cuitan pertamanya dalam bahasa Arab pada pukul 03.20 pagi waktu setempat saat ia berada di bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand.

Cuitan yang dibuat Rahaf tersebut berbunyi “Saya adalah gadis yang melarikan diri dari Kuwait ke Thailand. Hidup saya dalam bahaya jika saya dipaksa untuk kembali ke Arab Saudi.”, seperti dilansir oleh The Strait Times.

Setelah cuitan pertamanya tersebut, Rahaf terus-menerus mengunggah cuitan hingga lima jam berikutnya. Rahaf mengatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan dan diancam oleh keluarganya di Arab Saudi.

2.

Kampanye #SaveRahaf di media sosial

Remaja Putri Gubernur Saudi Ini Kabur karena Takut Dibantai Keluarganya. Begini Kisahnya!

Tidak lama setelah cuitan Rahaf terunggah di media sosial Twitter, sebuah kampanye dengan tagar #SaveRahaf mulai menyebar di berbagai media sosial. Tagar #SaveRahaf ini disebarkan oleh jaringan aktivis hak asasi manusia di seluruh dunia.

Masifnya tagar #SaveRahaf di media sosial Twitter, membuat salah seorang aktivis AS asal Mesir, Mona Elthaway, menerjemahkan semua cuitan Rahaf di akun Twitternya dan menyebarkannya secara lebih luas lagi.

“Saya sebenarnya sempat ragu apakah akun tersebut benar-benar memberikan fakta, tapi saya melanjutkan meretweet semua kicauan akun tersebut,” ujar Mona.

Di belahan Bumi lainnya, tepatnya di Sydney, Australia, seorang jurnalis video melihat cuitan Mona Elthaway yang meretweet cuitan Rahaf dan tertarik untuk terlibat dalam kasus Rahaf tersebut.

Sophie McNeill, nama jurnalis Austrlia tersebut, berasal dari stasiun televisi Australia Broadcast Corp. McNeill mulai membalas cuitan langsung ke Rahaf dan mereka pun mulai berkomunikasi secara pribadi.

Pada pukul 11.00 Minggu pagi di Thailand, Phil Robertson, Wakil Direktur Asia untuk Human Rights Watch, mulai memperhatikan cuitan Rahaf dan mulai meretweet kasus ini. Robertson langsung menghubungi Rahaf.

Berdasarkan respons Rahaf yang diterima Robertson, gadis remaja tersebut mengaku mendapatkan pelecehan secara fisik dan psikologis. Ia pun sudah memutuskan untuk keluar dari Islam. Ketika Rahaf menjelaskan permasalahannya tersebut, Robertson sadar bahwa remaja ini sedang mengalami masalah yang serius.

3.

Tagar #SaveRahaf yang menyelamatkan Rahaf

Remaja Putri Gubernur Saudi Ini Kabur karena Takut Dibantai Keluarganya. Begini Kisahnya!

36 jam kemudian sejak Rahaf pertama kali mengunggah cuitan, akhirnya tagar #SaveRahaf mampu menggerakan pemerintah Thailand untuk memaksa Rahaf masuk kembali ke pesawat yang akan mengembalikan ia ke keluarganya di Kuwait.

Rahaf akhirnya diizinkan untuk masuk Thailand pada Selasa, 8 Januari 2019. Rahaf mulai melakukan proses pencarian suaka di negara ketiga melalui badan pengungsi milik PBB, UNHCR.

Baca Juga:

Di bawah sistem hukum syariah yang kini diterapkan di Arab Saudi, keluar dari agama Islam merupakan bentuk kejahatan yang bisa mendapatkan hukuman mati. Walaupun sampai saat ini belum ada kasus serupa selama beberapa dekade terakhir yang terekspos hingga ke mancanegara.

Tags :