Pilpres Memanas, Satu Anggota TNI dan Pria Berkaus Jokowi Jadi Korban! Pendukung Brutal Salah Siapa?

Kalau sudah gini siapa yang paling bertanggungjawab?

Pemilihan Presiden memang masih beberapa hari lagi, tapi tensi panas sudah sangat terasa saat ini. Saling ejek di media sosial mudah ditemukan, mirisnya bahkan sampai adu jotos karena politik seperti yang terjadi di Yogyakarta.

Terjadi penganiayaan terhadap anggota TNI di dusun Malangan, Desa Bantar Kulon Bangun Cipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Bermula dari simpatisan PDIP yang melakukan konvoi setelah melaksanakan kampanye di alun-alun Wates, Kulon Progo.

Setia Budi Haryanto, anggota TNI yang jadi korban pengeroyokan | wartakota.tribunnews.com

Korban yang bernama Setia Budi Haryanto, seorang Ba TIM Intel Korem 072/PMK sedang menonton konvoi simpatisan PDIP yang melalui rumah korban tersebut. Tepatnya di Bantar Kulon sebelum jembatan Bantar Lama.

Saat sedang menonton, terjadi sesuatu di jembatan Bantar Kulon, Setia mengaku melihat adanya keributan yang melibatkan orang menggunakan baju merah tersebut. Melihat hal itu, Setia lalu merekam keributan tersebut menggunakan kamera ponselnya. Tapi saat tengah merekam Setia mendapatkan serangan dari simpatisan PDIP.

Saat mendapatkan serangan itu, Setia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anggota TNI. Namun orang-orang yang menyerangnya itu mengabaikan ucapan Setia. Tak hanya Setia yang jadi korban, Janarto yang saat itu juga berada di lokasi turut menjadi sasaran penyerangan itu. Janarto dan Setia dipukul menggunakan benda tumpul.

Beruntung, keduanya bisa melarikan diri ke arah kampung dan mendapatkan perolongan dari warga. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Nyi Ageng Serang. Karena kejadian tersebut Setia mengalami luka sobek di kepala bagian belakang dan dijahit sebanyak 7 jahitan. Setia juga mengalami luka sobek di pergelangan tangan kiri sepanjang 5 cm.

Saat ini polisi sedang melakukan pemburuan pelaku pengeroyokan terhadap Setia.

"Ada laporan pengrusakan rumah dan kendaraan warga di Sentolo. Iya (anggota Korem menjadi korban pengeroyokan)," kata Kapolres Kulon Progo, AKBP Anggara Nasution (Detik.com).

Luka hasil pengeroyokan | wartakota.tribunnews.com
Artikel Lainnya

Sebelumnya juga terjadi aksi pengeroyokan terhadap Yuli Wijaya, warga Dukuh Sarangan, Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen. Pelaku adalah Massa yang menggunakan atriut Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) yang sedang dalam perjalanan dari kampanye terbuka Prabowo-Sandiaga di Purworejo, Jawa Tengah.

"Itu konvoi, terus yang depan tiba-tiba balik nyamperin saya dan yang lain ikut mendekat terus mereka memaksa saya melepas baju, gambar Jokowi," kata Yuli.

Belum sempat melepas kaus bergambar Joko Widodo, Yuli tiba-tiba langsung dikeroyok. Ia tak bisa melawan dan hanya pasrah tak berdaya.

"Mau tak lepas sudah nggak sempet, mereka sudah mukul keroyokan. Pakai baju ijo loreng ada tulisannya GPK. Mau melawan nggak bisa, mereka mukul dari depan, samping, belakang. Teman saya yang lain coba ngalang-ngalangi dan kena pukul juga," lanjutnya.

Yuli Wijaya, dikeroyok karena menggunakan kaos Jokowi | kumparan.com

Kasus kekerasan-kekerasan yang terjadi pada Setia dan Yuli adalah contoh miris fenomena politik di Indonesia saat ini. Sebagai negara yang menganut demokrasi, harusnya warga negaranya mengamalkan saling menghargai orang yang memiliki pilihan berbeda. Lalu siapa yang paling bertanggungjawab atas beberapa kejadian kekerasan karena tensi politik saat ini? Para elite politik pun seharusnya memberikan imbauan agar pendukungnya atau bahkan seluruh warrga negara Indonesia untuk bisa menghargai perbedaan. Jangan sampai elite politik malah ikut menyiram minyak di tensi politik yang sedang panas-panasnya ini.

Semoga kasu-kasus diatas adalah yang terakhir yang terjadi di Indonesia. Masyarakat harus semakin dewasa dalam menyikapi arus perpolitikan di Indonesia. Menurutmu sendiri gimana nih guys agar kasus-kasus tersebut gak terulang lagi?

Tags :