Kisah Pengamen Fikri Pribadi, Dipukul dan Disetrum Polisi Agar Akui Pembunuhan

Kisah Pilu Fikri Pribadi Yang Dipaksa Akui Pembunuhan Oleh Polisi
Fikri Pribadi, pengamen yang disiksa oleh oknum polisi Polda Metro Jaya untuk akui pembunuhan, Selasa (17/7/2019). | megapolitan.kompas.com

Fikri kini dinyatakan bebas oleh putusan Mahkamah Agung dan menuntut ganti rugi salah tangkap sebesar Rp 746 juta ke polisi.

Seorang pengamen menuntut ganti rugi ke Polda Metro Jaya dan Kejaksaan DKI Jakarta setelah menjadi korban salah tangkap dan dipaksa mengaku sebagai pembunuh. Nama pengamen itu adalah Fikri Pribadi.

Pria yang kini berumur 17 tahun itu pun menceritakan kekejaman polisi saat memaksanya mengakui pembunuhan di Cipulir, Jakarta Selatan pada tahun 2013. Dia pun harus mengalami penyiksaan berupa pemukulan dan disetrum dari oknum polisi.

Berikut kisah Fikri yang kini sudah diputus bebas oleh Mahkamah Agung (MA).

1.

Temukan sesosok mayat

Kisah Pilu Fikri Pribadi Yang Dipaksa Akui Pembunuhan Oleh Polisi
Ilustrasi: Penemuan Mayat | nasional.republika.co.id

Pengalaman pahit Fikri berawal di tahun 2013 saat menemukan sesosok mayat yang berada di bawah kolong jembatan Kali Cipulir, Jakarta Selatan pada malam hari.

Dia bersama tiga temannya, Fatahillah (12), Ucok (13), dan Pau (16) pun langsung melapor kepada pihak sekuriti setempat yang tidak lama langsung dilaporkan pada pihak kepolisian.

Fikri pun mengaku sempat dimintai keterangan sebagai saksi oleh pihak kepolisian guna keperluan penyidikan. Dia pun sempat mengaku tidak mengenal sosok mayat tersebut.

“Polisinya bulangnya, ‘Tolong ya Abang jadi saksi ya’. ‘Iya enggap papa saya mau’, saya jawab begitu. Tahunya pas sudah di Polda malah kami yang diteken,” ucap Fikri dikutip dari Kompas.com, Kamis (18/7).

Baca Juga: TGPF Gagal Ungkap Pelaku Penyerangannya, Novel: Masa Polisi Indonesia Kalah dengan Turki

2.

Dipaksa mengaku sebagai pembunuh

Kisah Pilu Fikri Pribadi Yang Dipaksa Akui Pembunuhan Oleh Polisi
Fatahillah dan Ucok, pengamen yang menjadi korban salah tangkap polisi Polda Metro Jaya. | www.suara.com

Fikri lalu menceritakan perlakuan sejumlah oknum penyidik Polda Metro Jaya yang tidak hanya melakukan pemeriksaan pada dirinya tapi juga penyiksaan.

Perlakuan seperti dipukul, dibungkam pakai lakban, hingga disetrum disebutkan oleh Fikri selama menjalani proses pemeriksaan. Tujuannya pun satu, agar membuatnya mengakui pembunuhan pada mayat yang dia temukan.

“Saya langsung dilakbanin, disiksa pokoknya di Polda. Disetrum, dilakbanin, dipukulin, sampai disuruh mengaku (membunuh),” ujarnya.

Penyiksaan ini pun tidak hanya dialami Fikri tapi juga tiga temannya selama seminggu menjalani pemeriksaan. Karena tidak tahan disiksa, Fikri dan tiga temannya akhirnya mengakui pembunuhan tersebut dan divonis hakim bersalah.

Fikri pun sempat menjalani masa hukuman dan mendekam di penjara anak Tangerang pasca dipaksa mengakui pembunuhan oleh oknum polisi.

Baca Juga: WNI Jadi Korban Perkosaan di Malaysia, KBRI: Korban Alami Trauma

3.

Dibebaskan MA dan tuntut Polda Metro Jaya

Kisah Pilu Fikri Pribadi Yang Dipaksa Akui Pembunuhan Oleh Polisi
Gedung Mahkamah Agung. | mediaindonesia.com

Namun, belakangan Fikri dan teman-temannya dinyatakan tidak bersalah dalam kasus pembunuhan di Cipulir tersebut setelah melakukan banding di MA.

Putusan yang keluar pada tahun 2016 dengan nomor regristrasi 131 PK/Pid.Sus/2016 itu menyatakan keempatnya tidak bersalah dalam kasus pembunuhan dan dinyatakan bebas.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta pun memberikan bantuan kepada Fikri dan teman-temannya untuk mendapatkan keadilan dengan meminta ganti rugi atas kesalahan penangkapan yang dialaminya.

Fikri pun menuntut Polda Metro Jaya dan Kejaksaan DKI Jakarta untuk membayar ganti rugi karena mereka harus kehilangan penghasilan hingga biaya makan selama menjalani masa hukuman di penjara.

“Kerugian yang dituntut pihak mereka (Fikri dan teman-teman) sebesar Rp 186.600.000 untuk per anak. Biaya itu meliputi total kehilangan penghasilan sampai biaya makan selama dipenjara,” ucap kuasa hukum Fikri sekaligus anggota LBH Jakarta, Oky Wiratama Siagian di PN Jakarta Selatan.

“Dengan demikian, total untuk keempatnya sebesar Rp 746.400.000,” lanjutnya.

Artikel Lainnya

Kisah pilu Fikri Pribadi yang dipaksa mengaku sebagai pembunuh jelas mencoreng nama keadilan yang seharusnya ditegakkan oleh pihak kepolisian.

Belum lagi adanya praktik penyiksaan yang dilakukan pada terduga pelaku agar mengakui sebuah kasus yang belum tentu dilakukannya.

Semoga kejadian ini tidak terulang dan pihak kepolisian bisa tetap mengedepankan proses pemeriksaan yang humanis dan menghormati hak-hak manusia setiap orang.

Tags :