Kian Menjamur, Jumlah Penganut Ateis di Negara-negara Arab Meningkat. Mengapa?

Kian Menjamur, Jumlah Penganut Ateis di Negara-negara Arab Meningkat. Mengapa?
https://www.moroccoworldnews.com/2014/12/146626/morocco-has-second-highest-number-of-atheists-in-the-arab-world-study/

Bagaimana nasib ateis di negara berhukum syariah?

Mungkin selama ini banyak dari kita yang berasumsi bahwa seluruh warga negara-negara Arab adalah penganut Islam. Faktanya, agama-agama lain dan bahkan Ateis hidup di negara yang menegakkan hukum syariah ini.

1.

Jumlah masyarakat ateis di negara-negara Arab

Kian Menjamur, Jumlah Penganut Ateis di Negara-negara Arab Meningkat. Mengapa?

Tidak sedikit jumlah populasi masyarakat yang ateis di negara-negara Arab. Pendapat ini didukung oleh pernyataan dari Pusat Penelitian Hukum Islam di Kairo, Mesir, Dar Al Ifta, yang mengatakan bahwa ada 2.293 Ateis di negara-negara Arab yang jumlah penduduknya sekitar 300 juta jiwa.

Namun, pernyataan dari Dar Al Ifta tersebut banyak yang menyangsikan. Pasalnya, jumlah yang disebutkkan hanya berdasarkan pada jumlah anggota grup ateis yang terdapat di media sosial.

Pendapat lain yang dinyatakan oleh tim riset WIN/Gallup International pada tahun 2012 mengungkapkan jumlah yang sangat berbeda. Mereka mengungkap lebih dari satu juta warga negara Arab Saudi mengidentifikasi dirinya sebagai ateis dan hampir enam juta yang menilai dirinya bukanlah orang yang religius.

Penemuan ini cukup mengejutkan. Sebab, seperti yang diketahui bahwa negara Arab Saudi memberlakukan aturan syariah yang menjatuhkan hukuman yang sangat berat untuk kemurtadan, yakni hukuman mati.

Meski demikian, hukuman mati hampir tidak pernah dilaksanakan. Ateis yang dipidana akan menghabiskan waktunya di penjara sebelum ia diberi kesempatan untuk mengakui kesalahan. 

2.

Hukuman bagi yang tidak beragama

Kian Menjamur, Jumlah Penganut Ateis di Negara-negara Arab Meningkat. Mengapa?

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya masih di bulan Januari, seorang siswa asal Mesir bernama Karim Al Banna (21), divonis hukuman penjara selama tiga tahun. Ia dianggap telah menghina agama Islam karena pernyataannya di Facebook mengenai dirinya yang seorang ateis.

Sebelumnya, yakni pada Desember 2018, seorang kolumnis dijatuhi hukuman mati lantaran menulis kritik atas sistem kasta di negaranya dan mencoba menggali mekanisme keputusan yang dibuat oleh nabi pada abad ketujuh.

Musim semi tahun 2011, negara Arab mengalami guncangan revolusioner di berbagai wilayahnya. Saat itu, ribuan anak muda di wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah menuntut kebebasan. Terkait dengan tuntutan ini, agen intelijen Palestina menangkap Waleed Al Husseini (22) karena pemuda ini membuat tulisan di blognya yang mempromosikan ateisme.

Selama penangkapan tersebut, Al Husseini dikurung hingga 10 bulan dan mendapatkan penyiksaan secara fisik serta diinterogasi tanpa henti. Satu pertanyaan yang diingat oleh Husseini adalah “Siapa yang membiayai Ateisme Anda?”

Al Husseini mengatakan pada The New Republic bahwa negara tidak mengerti bahwa meninggalkan agama Islam merupakan pilihannya. Meninggalkan Islam, bukan hanya dianggap sebagai musuh Tuhan, tetapi juga musuh negara.

Ahmed Harqan, seorang aktivis asal Mesir, menyatakan pendapatnya pada Ahram Online, bahwa “Jjika negara (Arab) melindungi hak-hak minoritas, jumlah orang-orang yang mengungkapkan bahwa mereka ateis akan bertambah sepuluh kali lipat,”.

Banyak warga negara-negara Arab yang mengidentifikasi dirinya sebagai Ateis, tidak berani menyampaikan hal tersebut pada kerabatnya karena takut mengecewakan mereka. Agama, di negara-negara Arab, dinilai sebagai norma mutlak yang tidak perlu disangsikan lagi. 

Baca Juga:

Di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar, paham ateisme masih bebas dikembangkan meski nggak diakui oleh negara. Mereka bebas memilih apa pun yang ingin diamininya, meski ateisme sekali pun. Semoga terlepas dari kepercayaan apa yang dianut, kita akan selalu mampu menjaga kemanusiaan dan hak asasi manusia.

Tags :