Keluarga Masih Berduka, Rumah Sakit ini Sempat-Sempatnya Pungut Biaya Pengambilan Jenazah Korban Tsunami

Keluarga Masih Berduka, Rumah Sakit ini Sempat-Sempatnya Pungut Biaya Pengambilan Jenazah Korban Tsunami
https://news.detik.com/berita/4363290/ironi-pungli-ke-korban-tsunami-selat-sunda-di-rsud-serang

Netizen : yang kayak gini yang harusnya dibuang ke kawah krakatau

Tsunami selat sunda merenggut 462 jiwa, banyak yang kehilangan harta benda, bahkan keluarga. Kesedihan ini tentu meninggalkan trauma yang mendalam bagi para korban yang masih hidup. Namun sayang, kesedihan keluarga yang ditinggalkan harus ditambah dengan beban yang diberikan oleh salah satu rumah sakit.

Keluarga mengaku dipungut biaya hingga jutaan rupiah saat mengambil jenazah korban tsunami di RSUD dr Dradjat Prawiranegara (RSDP), Serang. Praktik pungutan ini berdasarkan kesaksian oleh pihak keluarga korban tewas tsunami.

Jenazah korban tsunami Banten, via Google.com

Keluarga Satria Sinaga dan Timoty Simbolon menceritakan mereka diharuskan membayar biaya sebesar Rp 3,9 juta. Biaya ini ditagihkan saat mereka akan mengambil tiga jenazah anggota keluarganya yang menjadi korban tewas tsunami saat berlibur di Pantai Carita, Pandeglang. Ketiga korban tewas itu adalah Ruspita Simbolon, Satria Sinaga, dan Timoty Simbol, "Sebagai keluarga, kami tidak terima," ujar Badiman Sinaga.

Bukti kwitansi pungutan biaya, via Google.com

Hal yang sama dialami oleh saudara mendiang Aa Jimmy. Saat mengambil jenazah keluarga Aa Jimmy, kerabat dimintai biaya sekitar Rp 14,5 juta. Uang itu digunakan untuk pemulasaraan dan formalin serta satu peti mati.

"Total kalau nggak salah Rp 14,5 juta," kata Sekjen Wali Care Andi Kristianto, yang mengurus jenazah keluarga Aa Jimmy di RSPD, Serang.


Praktik pungutan terhadap keluarga korban tsunami menyedot perhatian sejumlah kalangan, salah satunya Ombudsman Banten. "Iya mengecam. Itu bagian dari tidak etis, masak korban dipungut. Berarti ada tata kelola SDM (sumber daya manusia) yang tidak bagus," kata Kepala Ombudsman Banten Bambang P Sumo.

Dilansir dari detik.com, saat ini Polisi sudah memeriksa empat orang, termasuk kepala forensik dan anggotanya. Keempat orang yang diperiksa adalah BD, kepala forensik; FT dan AR, anggota forensik; serta BY, sopir ambulans RSUD dr Dradjat Serang. "Sudah ada total empat orang yang kami periksa," ujar Kapolres Serang Kota AKBP Firman Affandi.

Namun Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah membantah adanya pungutan liar terhadap keluarga korban bencana tsunami di Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang. "Saya juga mengecek ke bagian keuangan rumah sakit, pungli itu tidak ada, tidak dilakukan manajemen RSDP," kata Tatu dalam keterangan tertulis. 

Ratu Tatu Chasanah, via Google.com

Plt Direktur RSUD Serang Sri Nurhayati juga membantahnya. Sri menyebut pelayanan sudah maksimal dan optimal. "Terhadap pembiayaan dan kuitansi yang beredar di media massa, kami tegaskan bukan kuitansi resmi RSDP. Hal itu di luar sepengetahuan manajemen dan direksi RSDP," kata Sri.

Berita ini menyita banyak perhatian termasuk salah satunya warganet melalui media sosial twitter.

fahmi gunawan‏ @anaknyasuperman Orang kena musibah masih aja di kerjain bedebah
Tubagus rusmana‏ @damonrusmana kalo uang rokok its ok ini mah uang rokok setaunan
yusupakbar‏ @yusupakbar69 Orang2 kayak gini lempar ke kawah krakatau
Bumi bertasbih‏ @LembahSunyi Ini gila ,orang susah,duka dan berkabung jangan diperas

Tentunya suatu hal yang ironi saat keluarga sedang dalam keadaan berduka sayangnya mengambil jenazah saja dipersulit dengan biaya yang mahal. Semoga segera diusut tuntas sehingga kejelasan dan solusinya bisa ditemukan. 

Baca Juga : 

Tags :