Kampanye Door To Door, Ibu-Ibu ini Sebut Jika Jokowi Terpilih, Kawin Sejenis Legal dan Tak Akan Ada Lagi Azan!

Selain tak ada azan, ibu-ibu tersebut bilang pernikahan sesama jenis dibolehkan!

Beredar video yang menampilkan ibu-ibu berbicara bahwa apabila Jokowi terpilih dua periode makan tidak akan ada azan lagi. Video ini pertama ditemukan di media sosial Twitter.

Dalam video tersebut terlihat dua perempuan yang sedang berbicara kepada seorang penghuni rumah dengan menggunakan bahasa Sunda. Hal tersebut diduga sebagai kampanye atau himbauan untuk tidak memilih Jokowi di pilpres 17 April 2019 mendatang.

"Moal aya deui sora azan, moal aya deui nu make tiyung. Awewe jeung awewe meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin (Tidak ada lagi suara azan, tidak ada lagi yang memakai kerudung. Perempuan sama perempuan boleh menikah, laki-laki sama laki-laki boleh menikah," kata perempaun dalam video tersebut.

Kapolres Karawang AKBP Nuredy Irwansyah Putra menginformasikan bahwa ketiga perempuan yang terkait dengan video tersebut yang diduga berisi kampanye hitam telah diamankan ke Polda Jawa Barat untuk menghindari konflik.

"Tiga orang wanita itu kami amankan sebagai langkah preventif terjadinya konflik yang lebih besar," kata Nuredy setelah rilis pengungkapan kasus curanmor di Mapolres Karawang (Kompas.com).

Ketiga perempuan tersebut diamankan oleh personel Polres Karawang dibantu penyidik Polda Jabar pada Minggu 24 Februari 2019 malam di Cikampek. Salah satu dari ketiga perempuan tersebut adalah pemilik akun @citrawida5, yang diduga pertama kali mengunggah video tersebut, dua wanita lainnya adalah Engkay Sugianti dan Ika Peranika.

3 Perempuan terkait video kampanye hitam diamankan kepolisian | twitter.com
Artikel Lainnya

Awalnya @citrawida5 diduga beralamat di Perum Gadung Elok 1, Blok 140 Nomor 12A. Dilansir dari Kompas.com ke alamat yang diduga tersebut, sang pemilik rumah Aswandhi mengaku tak tahu apa-apa soal video tersebut. Bahkan ia tak mengenal laki-laki dan wanita yang ada di video tersebut.

Dugaan awal ketiga wanita tersebut adalah relawan Prabowo-Sandiaga nyatanya dibenarkan oleh juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ferdinand Hutahaean. Ia mengakui dua perempuan tersebut merupakan relawan Partai Emak-emak pendukung Prabowo-Sandiaga (Pepes).

"Ya, betul mereka memang relawan Pepes ya," kata Ferdinand kepada Tempo, Senin, 25 Februari 2019.

Dalam Twitternya pun @FerdinandHaean_ mengatakan bahwa apa yang dilakukan kedua perempuan tersebut bukanlah kampanye hitam. Berkampanye door to door dan menyampaikan kepada warga bahwa jika Jokowi kembali terpilih tak akan ada lagi suara azan, tidak ada anak-anak yang mengaji, tidak ada lagi perempuan yang memakai kerudung, dan perkawinan sesama jenis dibolehkan, hal itu bukanlah kampanye hitam menurut Ferdinand Hutahaean.

Mereka bicara itu tentu punya alasan..! Itu bukan kampanye hitam tapi menyampaikan apa yang mereka rasakan dan duga akan terjadi melihat fakta2 yang terjadi sekarang. Persoalan LGBT dan Suara Azan itu jd isu yg bangkit di era skrg. Jd itu bkn kampanye hitam..!!

Cuitan Ferdinand Hutahaean | twitter.com

Namun kini ketiga perempuan tersebut telah diamankan pihak polisi. Hasilnya bahwa ketiga perempuan tersebut telah melakukan kampanye hitam atau tidak tinggal menunggu hasil pemeriksaan kepolisian. Yang pasti agama jangan dipolitisasi demi jabatan atau kedudukan.

Tags :