Mamanda, Seni Pertunjukan Komedi dari Kalimantan Selatan yang Mulai Ditinggalkan

Mamanda, Seni Pertunjukan Komedi dari Kalimantan Selatan yang Mulai Ditinggalkan
https://haloborneo.wordpress.com

Anak muda wajib tahu seni tradisi Indonesia!

Seni pertunjukan semacam lenong Betawi, ludruk dari Jawa Timur, atau longser dari Tanah Sunda sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tapi masih jarang yang tahu kalau hampir setiap daerah di Indonesia memiliki seni pertunjukan serupa, salah satunya seperti di Kalimantan Selatan yang mempunyai Mamanda.

Mamanda merupakan seni pertunjukan atau seni teater tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Konsep yang diusung pertunjukkan ini mirip dengan pertunjukkan Lenong, yakni adanya interaksi langsung antara pemain dan penonton. Sehingga para penonton aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang membuat suasana pertunjukkan semakin hidup.

Pertunjukan Mamanda via karimganas.com

Mamanda dan Lenong memiliki perbedaan yang signifikan. Lenong lebih mengikuti perkembangan zaman, sedangkan Mamanda konsisten pada kisah para raja dengan tokoh-tokohnya, seperti cerita raja-raja, perdana menteri, mangkubumi, wazir, panglima perang, khadam, permasuir, dan lainnya.

Istilah Mamanda ini berasal dari istilah yang sering digunakan oleh para pemainnya. Para pemain pertunjukkan kerap dipanggil pamanda atau mamanda oleh Sang Raja.

Secara etimologis, Mamanda berasal dari kata mama (mamarina) yang dalam bahasa Bugis berarti Paman, dan nda yang berarti terhormat. Berdasarkan pengertian tersebut, Mamanda berarti sapaan untuk paman yang dihormati dalam sebuah sistem kekerabatan

Baca juga: Basiyo, Sang Legenda Dagelan Mataram yang Melucu dengan Kesederhanaannya

Pentas seni pertunjukkan komedi Mamanda via Gapuranews.com

Mamanda sangat populer di kalangan masyarakat Kalimantan. Saking populernya, pertunjukkan Mamanda juga pernah ditampilkan di acara TV swasta, lho.

Pertunjukkan Mamanda terasa hidup dan lebih segar karena tidak adanya naskah yang mengikat dan improvisasi dialog para pemainnya yang spontan. Meskipun demikian, inti ceria dari pertunjukkan tidak boleh dihilangkan.

Cuplikan pertunjukan via PEGUSEDA - WordPress.com

Terdapat dua aliran dalam pertunjukkan Mamanda. Pertama, Aliran Batang Banyu yang berkembang di daerah hulu sungai di Margasari. Mamanda Batang Banyu sering disebut juga Mamanda Periuk. Kedua, adalah Aliran Tubau yang berkembang di daerah Tubau, Rantau. Aliran yang disebut juga dengan Mamanda Batubau ini berkembang pula di Tanah Banjar.

Mamanda memang merupakan media penghibur. Namun dibalik ceritanya yang lucu, terdapat nilai-nilai budaya hingga kritik sosial. Namun kini Mamanda mulai tergeser oleh kesenian modern. Bisa dikatakan bahwa generasi muda yang mengetahui kesenian Mamanda hanya sedikit.

Baca Juga: Eksisten Ludruk, Seni Komedi Asal Jawa Timur yang Mulai Luntur. Generasi Milenial Harus Tahu!

Abdul Syukur, pegiat teater dan sastra Banjarmasin, mengatakan bahwa dulu ketika masih ada Departemen Penerangan, kesenian seperti Mamanda ini lebih dikenal karena sering diminta tampil untuk menyampaikan program pemerintah, terutama di daerah pedalaman.

Tapi, saat ini Mamanda semakin jarang tampil sehingga masyarakat pun kurang mengenal. Meskipun demikian, perlu adanya modifikasi agar kesenian tersebut bisa diterima lagi oleh semua kalangan. Misal, bahasa yang digunakan tidak melulu bahasa daerah tetapi menggunakan bahasa Indonesia. Jadi semoga saja, tradisi ini nggak hilang begitu saja dan bisa kembali dicintai.

Baca juga: Teguh Slamet Rahardjo, Pendiri Salah Satu Grup Lawak Tersukses di Indonesia

Tags :